Search

OPINI
PRAKERIN SMK, PENGENALAN DUNIA KERJA

Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd. I.

Praktek Kerja Industri (Prakerin) adalah salah satu program kusus pembelajaran siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di dunia usaha / dunia industri (DU/DI). Dasar hukum tentang prakerin ini adalah Kepmendiknas R.I. Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan Sistem Ganda pada SMK. PSG adalah suatu bentuk
penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara
sistimatik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan
keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja di dunia kerja, terarah
untuk mencapai tingkat keahlian profesional tertentu.
Pada hakekatnya, penerapan PSG ini meliputi pelaksanaan di sekolah dan dunia usaha / dunia industri (DU/DI). Sekolah membekali siswa dengan materi pendidikan umum (normatif), pengetahuan dasar penunjang (adaptif), serta teori dan ketrampilan dasar kejuruan (produktif). Selanjutnya, DU/DI diharapkan membantu bertanggung jawab terhadap peningkatan keahlian profesi melalui program khusus yang dinamakan prakerin.
Idealisme yang diusung oleh PSG/Prakerin adalah ingin mendekatkan kualitas
tamatan yang meliputi kemampuan kerja dengan sikap profesionalismenya. Maka dari itu, dengan memilih pola penugasan langsung siswa di dunia usaha / industri dalam bentuk prakerin untuk mendapatkan pengalaman kerja dan membina siswa untuk beradaftasi dengan lingkungan kerja nyata.
Kebijakan di SMK selama ini menerapkan jadwal pelaksanaan prakerin adalah saat siswa berada di tingkat 2 atau di kelas XI semester genap, dan ada sebagian lagi di kelas XII semester ganjil.
Adapun rentang waktu yang dibutuhkan untuk prakerin ini berkisar antara 3 sampai 6 bulan, tergantung situasi perusahaan yang menerima siswa-siswa prakerin, dan pada beberap kasus bias mencapai 1 tahun, seperti prakerin di luar negeri.
Memang, adanya program prakerin bagi siswa SMK ada pendapat-pendapat lain yang tak sepaham. Misalnya menghubungkan dengan masalah perlindungan HAM anak atas kebijakan prakerin ini. Mereka yang mempersoalkannya adalah masalah usia kerja yang rata-rata dibawah 18 tahun, yang betentangan dengan pasal 1 ayat 1 UU No. 23 tahun 2002. Kemudian juaga pasal 68 UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang menegaskan bahwa “Pengusaha dilarang memperkerjakan anak”, dan kriteria anak yang dimaksud dalam pasal ini adalah mereka yang berusia 18 tahun.
Namun, terlepas dari perbedaan pemahaman ini, bagi penulis prakerin bagi siswa SMK sangat diperlukan. Alasannya adalah siswa butuh pengalaman kerja nyata sebagai bekal mereka setelah menyelesaikan pendidikan di SMK.

OPINI
FUTUROLOGIS MEMANDANG MASA DEPAN
Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd.I

Berakhirnya tahun ajaran 2009-2010 dan menghadapi tahun ajaran baru 2010-2011, bagi dunia pendidikan dipandang sebagai isyarat untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan dan tingkat kesulitan tinggi yang harus dihadapi oleh generasi penerus. Menatap masa depan, dapat diibaratkan menatap suatu pandangan yang sangat menakjubkan dan sekaligus mengerikan. Menatap masa depan bukan hanya menjanjikan kemudahan tapi juga kesulitan. Hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan dan kualitas tinggi yang akan mampu tampil dimasa depan.
Untuk menjawab tantangan dan persoalan masa depan itu, tidaklah cukup dengan teori-teori yang membuat kepala pusing, melainkan memerlukan persiapan-persiapan dari berbagai sisi disertai partisipasi aktif segenap lapisan masyarakat. Disamping masyarakat pendidikan formal, juga dibutuhkan peran aktif dari masyarakat non-formal.
Masa depan seringkali diidentikkan dengan dengan generasi penerus. Yaitu generasi masa depan yang memiliki kualitas dan tanggungjawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan negara. Maka dari itu, untuk menyongsong masa depan yang penuh dengan tantangan itu, diperlukan generasi terdidik. Generasi yang terdidik dalam arti generasi yang dapat membekali dirinya dengan keahlian dan kemampuan. Dengan demikian nampak semakin jelas, bahwa persoalan masa depan lebih banyak tertumpu pada pendidikan. Keberhasilan kita (pemerintah) menghadapi tantangan dan persoalan masa depan, akan tergantung kepada keberhasilan kita dalam mendidik generasi penerus.
Permasalahan masa depan inilah yang menjadi fokus pembicaraan para futurologis, yaitu sekumpulan orang atau para ahli dari berbagai disiplin yang mencoba mengkaji berbagai kemungkinan dan kecendrungan yang bakal terjadi di masa depan dengan memperhitungkan berbagai gejala di masa lampau dan masa kini.
Sudah menjadi sunnatullah, informasi mengenai kecendrungan keadaan masa depan sangat penting untuk merancang dn melaksanakan berbagai tindakan masa kini, sebab pada hakikatnya apa yang dilakukan masa kini akan nampak hasilnya di masa yang akan datang.
Sudah menjadi maklum bahwa berbagai perubahan dalam setiap aspek kehidupan berlangsung dengan sangat cepat terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Setiap ada perubahan dalam bidang tertentu , kemungkinan besar akan terjadi perubahan pada bidang yang lainnya. Perubahan-perubahan itu tidak selamanya dapat diprediksi secara pasti. Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, akan terjadi perubahan dalam bidang-bidang lain seperti sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Dengan demikian pada gilirannya akan ikut berpengaruh pula pada dunia pendidikan. Kalau sudah masuk ke dalam dunia pendidikan, tak dapat dipungkiri, guru sebagai aktor utama dalam dunia pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan generasi yang akan datang itu.
Dalam era globalisasi dan industrialisasi ini, masyarakat paling tidak memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam pengertian mereka menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, adaftif, kreatif, inovatif dan berakhlak mulia. Bila guru dipandang sebagai seorang yang harus memberi kemudahan bagi terwujudnya SDM seperti itu, maka guru sudah sewajarnya mempersiapkan dirinya untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi untuk memenuhi tantangan yang akan dihadapinya nanti.
Tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam menyerap, mengadaptasi dan mengembangkan IPTEK tergantung dari pendidikan dan latihan yang diterima di bangku sekolah. Sedangkan kemungkinan keberhasilan dalam penerapannya dari pada kesesuaian antara pelaksanaan pendidikan dan program pengembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu dalam menelaah masalah ini perlu dikaji lebih dahulu program pengembangan ilmu dan teknologi yang dengan sendirinya dalam kaitannya dengan pembangunan nasional.
Masa yang akan datang tidaklah sama dengan masa kini, apalagi dibandingkan dengan masa lampau, menantang pelakunya dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berbeda.. Juga akan menantang berbagai lembaga-lembaga pendidikan dengan cara-cara yang berbeda dengan masa sekarang ini.
Berbagai konsep dan pemikiran sudah banyak terlontar, masalah apa dan bagaimana seharusnya pendidikan menyikapi masa yang akan datang. Apabila pendidikan ditantang untuk menampilkan konsep pembaharuan dalam mengantisipasi masa depan, maka hal itu berarti bahwa guru harus mencari posisi yang lebih akurat dalam peranannya sebagai pendidik.
Pandangan para futurologis dalam menyikapi masa depan selanjutnya adalah mengenai peran dan fungsi guru, antara lain disebutkan bahwa guru berperan sebagai perantara antara konsumen (kebutuhan tenaga terampil) dan produsen (sumber daya manusia terdidik). Dalam kiprahnya, guru tidak lagi bekerja sendiri, melainkan perlu menjalin hubungan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Guru tidak lagi berfungsi sebatas memberikan layanan secara langsung, tapi juga berperan sebagai perantara antara kebutuhan dan sumber-sumber lain yang tersedia. Oleh karena itu, guru harus dituntut untuk semakin banyak memahami persoalan yang terjadi di dalam kelas serta perkembangan yang dialami oleh peserta didik. Dengan cara seperti itu, maka guru akan dapat mengetahui, sumber daya apakah yang dibutuhkan oleh peserta didiknya. Dengan kata lain, guru berperan untuk membuat ikatan pertalian antara sumber daya yang dibinanya (peserta didik) dengan yang dibutuhkan di industri (dunia kerja).
Sebagai manajer (pendidik/guru) sumber daya manusia di masa yang akan datang, guru sangat memerlukan kompetensi yang berbeda dengan masa sekarang ini. Mereka perlu lebih fleksibel baik secara sosial maupun secara intelektual. Para pelaku utama dalam dunia pendidikan itu lebih banyak memerlukan persiapan untuk menggunakan pengetahuan yang dimilikinya ketimbang menumpuknya. Dan juga para pendidik itu lebih memerlukan untuk siap dilatih kembali dalam berbagai pengembangan sebagai konsekuensi pesatnya Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. Semua itu diperlukan untuk menunjang keberhasilan tugas-tugasnya mendidik calon-calon warga negara di masa mendatang.
Dengan kenyataan seperti itu, seyogianya lembaga-lembaga pendidikan yang ‘menelorkan’ tenaga pendidik mampu menghasilkan guru yang profesional dan mampu menterjemahkan perkembangan zaman dimasa yang akan datang. Dan juga harapan dibebankan kepada guru agar mampu menyesuaikan tindakan pendidikannya dalam rangka menghadapi tuntutan dan tantangan masa depan.

OPINI
UNPK dan Keadilan Pendidikan
Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd. I.

Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) khusus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan dilaksanakan mulai tahun ini. Demikian kutipan berita PR (8/10/2009).
Tentunya, kabar ini sangat menggembirakan bagi dunia pendidikan. Khususnya bagi siswa, guru, dan pengelola pendidikan yang selama ini berkecimpung di SMK. Bagaimana tidak? Selama ini kita merasa prihatin jika mendengar keluhan dari para ‘alumni’ SMK yang lulus melalui jalur paket C. Mereka menyesali nasib yang menimpa mereka selama ini. Mereka menyesal karena tidak lulus, dan lebih menyesal lagi setelah ada penyetaraan kelulusan, ijazah yang di dapat tidak sesuai dengan yang ia pelajari selama ini.
Sebagai pendidik, penulis sangat bahagia dan menyambut baik dengan adanya UNPK khusus SMK. Setidaknya pemerintah (baca: Departemen Pendidikan Nasional) dapat membaca dan memahami kebutuhan masyarakat.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana yang ditegaskan dalam penjelasan Pasal 15 UU sisdiknas, merupakan pendidikan menengah yang lebih mengarahkan peserta didik (siswa) untuk memiliki keahlian khusus pada bidang tertentu. Sedangkan tujuan pokok SMK yaitu menghasilkan sumber daya manusia / tenaga kerja menengah, untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri.
Dengan mengacu pada tujuan pokok SMK tersebut, sangat tepat jika pemerintah menggulirkan tentang Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) khusus untuk siswa SMK yang gagal pada Ujian Nasional.
Kita perlu mengapresiasi keputusan pemerintah (Depdiknas) yang menggulirkan UNPK pada tahun ini. Walau agak terkesan terlambat dan disesalkan oleh siswa angkatan sebelumnya, setidaknya keputusan tentang UNPK ini telah melegakan pihak-pihak yang selama ini memang sangat membutuhkan. Nantinya kita tidak lagi mendengar sindiran-sindiran bagi lulusan SMK yang melalui jalur kesetaraan (persamaan) paket C. Sekolah 3 tahun di kejuruan, ijazah IPA/IPS.
Dengan bergulirnya UNPK ini setidaknya keadilan pendidikan dapat dirasakan juga oleh siswa-siswa yang belajar di sekolah-sekolah kejuruan. Semoga kebijakan ini akan membantu siswa-siswa kita yang bernasib kurang baik dalam pendidikannya dengan tidak lulus dalam Ujian Nasional / Ujian Sekolah. Dan semoga kebijakan ini jangan disalahartikan dengan memberi peluang bagi anak-anak kita belajar ‘santai’ dalam menghadapi UN/US nanti. Semoga.

Sang Jagal Bernama Israel

Oleh: ROHMAT
(Guru SMK Negeri 1 Majalengka)

Biadab! Itulah kata paling tepat untuk menggambarkan kebrutalan tentara Israel. Belum hilang dari ingatan kita tentang serangan brutal yang dilakukan tentara Israel terhadap konvoi kapal Mavi Marmara yang membawa sekitar 10 ribu ton bantuan kemanusiaan ke Gaza Senin (31/5). Kini, Zionis Israel itu membuat ulah lagi dengan merebut kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza (PR, 6/6). Dengan sikap arogannya, Israel merebut kapal kemanusiaan Rachel Corrie yang juga membawa 1.200 ton bantuan kemanusiaan untuk Gaza, sabtu (5/6).
Setelah sekian lama sejak 28 Juni 2006 masyarakat dunia menyaksikan kebiadaban dan kejadian yang dipertontonkan oleh negara Zionis Israel, dengan dukungan penuh sekutu utamanya Amerika Serikat “Sang Pahlawan Demokrasi”, terhadap negara Palestina. Lembaga-lembaga Internasional seperti OKI, Liga Arab, Gerakan Non Blok, bahkan PBB yang didominasi AS terkesan tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan “Sang Jagal” Israel.
Terakhir, dengan kecongkakannya Israel menantang PBB (PR, 4/6) tentang penyeruan penyelidikan terhadap serangan biadab tentaranya terhadap kapal kemanusiaan Freedom Flotilla.
Serangan tentara Israel terhadap kapal kemanusiaan yang membawa bahan makanan dan obat-obatan ke Gaza, Palestina, bukan sesuatu yang baru. Serangan Israel terhadap kapal kemanusiaan bukan hanya sekarang. Artinya, sebelumnya Israel juga pernah melakukan penyerangan terhadap rumah sakit, pasar, dan sekolah. Ini sudah kebiasaan bagi mereka.
Kalau diperhatikan secara seksama Israel dengan dukungan penuh AS selalu menerapkan hukum kolektif. Mereka menganggap semua bangsa Palestina adalah bersalah, sehingga ketika seorang kopral Israel bernama Gilat Shalit (19 tahun) diculik para pejuang Palestina, dengan tuntutan agar Israel membebaskan 1000 tawanan Palestina yang sebagian besar anak-anak pada tahun 2006, mereka langsung memborbardir Gaza yang luasnya sekitar 365 km persegi, dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ketika itu ratusan jiwa rakyat Palestina syahid dan ratusan jiwa lainnya ditangkap. Tentunya, kita akan menyaksikan sebaliknya, apabila tentara Israel membantai rakyat Plaestina.
Kebiadaban Israel tersebut harus segara diakhiri. Dan jalan satu-satunya adalah melalui perundingan. Namun dia juga mengaku bahwa beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB juga tidak pernah diindahkan Israel. Terakhir, dengan kecongkakannya Israel menantang PBB (PR, 4/6) tentang penyeruan penyelidikan terhadap serangan biadab tentaranya terhadap kapal kemanusiaan Freedom Flotilla. Sekarang masyarakat dunia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat. Apalagi pemerintahan Obama memiliki good will terhadap perdamaian Israel dan Palestina. Tetapi sebagian masyarakat dunia bersikap pesimistis dengan pemerintahan Obama. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu pada saat Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengunjungi Israel untuk membicarakan perundingan, pemerintahan Israel justu mengumumkan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina.
Kalau sudah begini kondisinya, apa yang harus kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita yang kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya. Cukupkah hanya berdemo?
Sejarah Yahudi
Kisah tentang Yahudi bukanlah sekedar bagian dari masa lalu. Di depan kita, kini juga membentang ancaman serius dari bangsa yang sesungguhnya dikaruniai beberapa kelebihan ini. Cakar-cakar zionisnya siap mencengkram kaum muslimin yang lalai atau tidak lagi peduli pada agamanya.
Secara etnis bangsa yahudi dengan bangsa Arab adalah bersaudar, hal ini dapat dilihat dari nenek moyang yang sama yaitu Nabi Ibrahim as. Yang membedakan diantara mereka yakni dari ibu. Bangsa Arab keturunan Nabi Ismail as. dari Siti Hajar. Sedangkan bangsa yahudi keturunan Nabi Ya’kub as putra Nabi Ishak as dari Siti Sarah. Dari silsilah keturunan inilah, yang terus menerus menjadi sumber ketidakakuran antara bangsa yahudi dan bangsa Arab. Ditambah lagi dengan kerasulan Muhammad saw, yang membawa risalah Islam bukan dari golongannya. Maka dari pula Allah berfirman “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS, 2 : 120).
Fakta fenomenal saat ini yang menggambarkan arogansi, kecongkakan, dan penindasan Yahudi terhadap kaum muslimin adalah hikmah yang harus diambil dari Firman-Nya: “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS.17:4).
Pembunuhan bukan hal asing dalam sejarah bagi “si jagal yahudi”. Bahkan nabi-nabi mereka, seperti Nabi Zakariya a.s. dan Nabi Yahya a.s. pun dibunuh. Mereka juga mengira telah berhasil membunuh Nabi Isa a.s. dan bangga atas usahanya. Tapi Al-Quran membantahnya, “Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, (QS.4:157).
Dengan melihat sepak terjang kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina, dapat dipastikan bahwa yang teroris sebetulnya adalah Israel, bukan umat Islam yang selama ini menjadi tuduhan dikalangan Barat (khususnya Amerika).

KHUTBAH JUM’AT, 6 Nopember 2009
KEIKHLASAN
Oleh: Drs. Rohmat, M. Pd. I.
Masjid Al-Imam, Desa Leuwikidang, Majalengka
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, dan kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Diantara persoalan aqidah yang sangat penting dan perlu untuk kita perhatikan adalah masalah keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah dari aqidah yang benar. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebenarnya keikhlasan itu merupakan dari Tauhid Uluhiyyah. Orang beramal mendekatkan diri kepada Allah Swt jika tanpa disertai keikhlasan, maka amal tersebut tidak akan diterima.
Berkaitan dengan keikhlasan ini Allah Swt telah mengatakan bahwa perintah ibadah itu tiada lain hanyalah untuk mentauhidkan-Nya, yakni mengamalkannya dengan ikhlas.
            •     
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
         
“Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
Di dalam ayat ini ada petunjuk bahwa niat itu wajib hukumnya dalam beribadah, sebab keikhlasan itu adalah perbuatan hati, yakni dengan amal perbuatan tersebut menghadap wajah Allah, bukan yang lainnya.
Hadirin Rohimakumullah
Dalam hadits Qudsi dikemukakan sebagai berikut:

Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa buku yang telah disegel, (yaitu buku amal pekerjaan harian menurut catatan Raqib dan ‘Atid), lalu dihadapkan kepada Allah Swt. (Pada waktu itu) Allah berfirman: Buanglah buku-buku ini semuanya”. Malaikat berkata: “Demi kekuasaan Engkau, kami tidak melihat di dalamnya melainkan yang baik-baik saja”. Selanjutnya Allah berfirman: “Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karena Aku, dan Aku sesungguhnya tidak akan menerima kecuali apa-apa yang dilaksanakan karena mencari keridlaan-Ku”. (HQR Bazzar dan Thabrani)
Dalam Hadits Qudsi tersebut diceritakan bahwa diantara buku-buku catatan harian yang sudah diperkirakan oleh yang bersangkutan akan baik (akan menempatkannya pada tempat yang tinggi kelak), ternyata setelah diletakkan di hadapan Allah Swt isinya ditolak karena tidak dikerjakan dengan ikhlas karena Allah.
Allah berfirman kepada Malaikat-Nya: “Turunkanlah buku ini karena ia tidak berhak diangkat atau diterima. Oleh karena itu buang sajalah.”
Hadirin Ikhwatu iman RK
Para malaikat membuat catatan sebagaimana adanya, sesuai dengan tingkat pengetahuannya, namun Allah memberitahukan kepada para Malaikat hakikat buku tersebut, bahwa amal yang dilakukan oleh yang bersangkutan, lahirnya baik dan bagus, tapi pada hakikatnya tidak baik, buruk dan busuk. Amal tersebut menurut penilaian Allah dilakukan bukan karena Allah yang sebenar-benarnya. Allah Maha mengetahui apa-apa yang tersirat dibalik amal perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Allah Swt mengetahui bahwa orang yang bersangkutan melakukan amal baik itu bukan karena Allah akan tetapi karena riya’, karena ingin dipuji dan disanjung, karena ingin mendapat bintang penghargaan atau kehormatan dan lain-lain sebagainya. Allah tidak akan menerima amal perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah, tidak menerima segala sesuatu yang dilaksanakan dengan tidak ikhlas karena Allah.
Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa’I, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang diterima oleh Abu Hurairah ra, diterangkan tentang keadaan beberapa hamba yang dihisab kelak pada hari kiamat yang berujung dengan kehinaan, yaitu mereka dimasukkan ke neraka. Padahal mereka itu waktu di dunia mengamalkan amalan-amalan yang pada zhahirnya shalih, dan dapat dijadikan wasilah untuk masuk surga. Semula mereka mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan dari amalan-amalannya itu adalah suatu amal shalih yang cukup untuk mendapatkan tiket masuk syurga. Tetapi kenyataannya pada waktu dihisab, sungguh di luar dugaan. Ternyata apa yang mereka lakukan sebagai suatu amal shalih atau suatu perjuangan untuk membela agama Allah, tidak diterima oleh allah Swt. Penyebabnya tida lain, karena dalam amalannya itu tidak didorong oleh niat yang shalih dan tidak ada keikhlasan hati dalam mengerjakannya.
Abu Huraeroh Ra menerangkan sabda Rasulullah SAW pada hadits itu sebagai berikut:
Pertama, yang dihisab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ditunjukkan kepadanya pahala amalnya, sehingga ia mengetahuinya. Akan tetapi ia ditanya terlebih dahulu, apa yang mendorong dia untuk berjihad seperti itu sehingga mati syahid. Ia menjawab bahwa ia berjuang sampai titik darah penghabisan itu adalah “Lil-Llah” (karena Allah). Tetapi Allah SWT maha tahu apa yang terlintas dalam hati orang itu. Allah Swt berkata kepada orang itu:
“Engkau berdusta. Bukankah engkau berjuang itu agar disebut sebagai orang pemberani?” Hamba itu tidak dapat berkata-kata lagi, karena ketahuan niat yang jeleknya. Lantas ia diseret masuk neraka.
Ada lagi seorang hamba yang sangat rajin belajar ilmu agama, lalu ia mengajarnya dan mahir membaca al-Qur’an. Kemudian ia diperkenalkan pahalanya agar ia mengetahuinya. Dia ditanya terlebih dahulu tentang apa yang mendorong melakukan amalan seperti itu. Ia menjawab: “Aku berbuat seperti itu adalah demi Engkau ya Allah”. Allah menjawabnya: “engkau berdusta, bukankah engkau belajar dan mengajarkan ilmu agama itu agar disebut ulama dan ahli dalam membaca Qur’an? Ia tidak dapat berkata-kata apa lagi, dan akhirnya diseret masuk ke neraka.
Hadirin Yang di Mulyakan Allah SWT.
Kemudian diceritakan pula ada seorang hamba yang ditakdirkan Allah menjadi orang yang kaya raya, banyak dermanya, dan rajin menginfakkan hartanya. Ditanyakan kepadanya, apa yang menjadi motif untuk berderma dan berinfaknya itu. Ia menjawab: “Aku berbuat seperti ini demi-Mu ya Allah”. Allah Swt menjawab: “bohong engkau, bukankah engkau berderma itu karena ingin disebut seorang dermawan?. Ia tidak dapat menjawab, karena ketahuan motif yang tidak benarnya itu. Akhirnya ia pun dimasukkan ke neraka.
Dari gambaran hadits di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa niat yang shalih dan keikhlasan hati adalah kunci untuk menentukan nilai suatu amal. Sebaliknya motivasi beramal yang bukan lil-Llah dan diiringi dengan sifat riya di dalamnya akan menghapus pahala dari amalan-amalan itu. Sehingga pada akhirnya apa yang diklaim sebagai amal shalih itu tidak itu tidak mempunyai arti sama sekali, bahkan hanya mengandung adzab Allah Swt.
Oleh karenanya dalam beramal, baik dalam ibadah maupun amal shalih bukan hanya dzahirnya saja yang harus diperhatikan, tetapi bathinnya juga. Yang dimaksud yaitu memperhatikan niat dan keikhlasan-nya.
Ma’asyirol Muslimin RK.
Ikhlas dalam istilah syar’i berbeda dalam pengertiannya dengan ikhlas dalam ucapan sehari-hari. Karena ikhlas dalam pengertian sehari-hari menurut awam artinya rela menerima apa adanya (pasrah), atau tanpa pamrih dalam melakukan suatu amal. Sedangkan menurut pengertian para ahli, ikhlas didefinisikan sebagai berikut:
Ikhlas dalam pengertian bahasa: meninggalkan sifat riya dalam melaksanakan ketaatan (ibadah). Sedang menurut istilah ikhlas adalah memurnikan hati dari campuran yang akan memperkeruh kebeningannya. Atau: Engkau tidak mencari saksi lain dalam beramal selain Allah. Atau: membersihkan segala amal dari segala kekeruhan.
Adapaun yang dapat memperkeruh amalan-amalan shalih ini, seperti sifat riya, terlalu mencintai kehidupan dunia, dan mencari populeritas.
Hadirin Yang dilmulyakan Allah Swt.
Dalam kesempatan yang sangat mulya ini, khatib mengajak: mari bersama-sama kita pahami makna yang terkandung dari ayat-ayat Alqur’an, hadits Qudsi, dan Hadits Rasulullah yang khatib telah kemukakan diatas. Semoga Allah selalu membimbing setiap amal yang kita lakukan, sebuah amal yang didasari dengan keikhlasan karena Allah SWT. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Bimbing Siswa yang Belum Lulus

Oleh : ROHMAT
(Guru SMK Negeri 1 Majalengka)

Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat sekolah menengah pertama (SMP)/madrasah tsanawiah (MTs) di Jawa Barat mencapai 97,59 persen dari total peserta yang berjumlah 636.511 orang (PR, 7/5/10). Dengan demikian yang belum lulus dan harus mengulang pada tanggal 17-20 Mei mencapai 2,41 persen.
Bagi mereka yang telah berhasil kita ucapkan selamat dan mensyukuri nikmat yang telah diterimanya itu, jang sampai ada ueforia yang berlebihan, sehingga akan menjauhkan diri mereka kepada Sang Khalik. Kemudian yang telah lulus itu, kita dorong untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana langkah kita untuk membantu mereka yang belum berhasil UN tahap pertama? Bagaimana cara kita membantu mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian susulan nanti?
Disinilah peranan jiwa pendidik kita diuji. Selama tiga tahun kita mendidik, membimbing, memberikan pengayaan, dan langkah-langkah lainnya, pada kenyataannya belum berhasil secara maksimal. Kita dituntut untuk sabar dan bersikap bijak dalam menyikapi siswa yang belum lulus itu. Carilah solusi yang terbaik untuk membantu mereka yang belum berhasil dalam UN tahap pertama. Kesempatan bagi mereka masih sangat terbuka lebar. Sekarang bagaimana sikap kita, khususnya bagi kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan para orang tua untuk membantu mereka serta memotivasi mereka untuk megikuti ujian susulan dan berhasil lulus.
Caranya yaitu dengan membimbing dan kawal mereka, jangan membiarkan mereka mempersiapkan diri sendiri dalam menghadapi UN susulan nanti. Jangan lepas tanggung jawab membiarkan siswa yang harus mengulang ujian dengan bekerja keras sendiri-sendiri. Jangan biarkan mereka meratapi ketidakberuntungan UN tahap pertama lalu dengan kesedihan yang berkepanjangan yang akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Apalagi jika ada diantara mereka yang frustasi dengan kegagalan UN utama itu dan takut untuk mengikuti ujian susulan.
Berilah bimbingan belajar untuk mata pelajaran yang belum lulus, memotivasi mereka untuk menghadapi ujian dengan tenang dan selalu berdo’a kepada Tuhan agar dimudahkan dalam menghadapi ujian susulan tersebut. Semoga UN susulan yang akan dihadapi nanti akan menghasilkan nilai yang diharapkan. Amin.

KHUTBAH JUM’AT, 12 Juni 2009
MERAIH KEBAHAGIAAN
Oleh: Rohmat
Masjid Al-Imam, Desa Leuwikidang, Majalengka
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Kebahagiaan hidup, baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak, merupakan dambaan setiap oraang yang beriman. Sementara ini kita baru merasakan kebahagiaan diBahwa orang yang berimanan akan dianugerhakan Tuhan ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian atau keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah swt, sebagai Zat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat. Dengan mengetahui akan hal ini maka jiwanya akan selalu merasa tentram dan tenang. Ia tidak pernah tamak kepada dunia disamping itu pula ia tidak akan terlalu menyesal ketika apa yang telah ia hasilkan tiba-tiba hilang darinya.
Berikut ini akan saya sampaikan beberapa hal yang dianjurkan oleh Islam agar kita bisa meraih kebahagiaan.
I. Tingkatkan kadar Iman dan amal sholeh.
Bagaimana Iman dapat menuntun kita untuk meraih kebahagiaan, hal ini dapat dijabarkan dengan beberapa hal.
pertama: Bahwa orang yang berimanan akan dianugerhakan Tuhan ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian atau keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah swt, sebagai Zat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat. Dengan mengetahui akan hal ini maka jiwanya akan selalu merasa tentram dan tenang. Ia tidak pernah tamak kepada dunia disamping itu pula ia tidak akan terlalu menyesal ketika apa yang telah ia hasilkan tiba-tiba hilang darinya.
kedua: bahwa dengan iman dapat menjadikan manusia sebagai sosok insan yang memiliki visi dalam hidup, di mana visi ini selalu akan diperjuangkannya dengan segenap usaha dan kerja keras sebagai rasa kepeduliannya terhadap kemaslahatan semua orang yang ada disekitarnya. Maka secara tidak langsung bertolak dari rasa iman ini pula, sesungguhnya rasa sentimen individualisme manusia akan terkikis, mengingat ternyata betapa besar tanggungjawab seorang mukmin tadi terhadap bukan hanya dirinya melainkan juga terhadap masyarakat dan lingkungannya.

II. Tingkatkan kwalitas ahlak dan etika bergaul
Adapun cara meraih kebahagiaan yang kedua selain iman adalah: Selalu berusaha untuk memperbaiki kwalitas ahlak dan etika bergaul. Sebab satu hal yang harus diingat, bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk yang paling tidak bisa hidup menyendiri atau terisolasi dari kehidupan sosial. Manusia mutlak membutuhkan satu sama lainnya untuk survive. Dan dalam hukum interaksi sosial, manusia yang paling bisa survive dan meraih kebahagiaan sesungguhnya adalah manusia yang mampu menempatkan dirinya secara bijak dan proporsional sesuai dengan tuntunan etika serta ahlak yang baik. Satu ayat al-quran kita petik untuk menegaskan betapa beretika yang baik dan sopan adalah sangat penting supaya orang lain yang ada disekitar kita tidak menjauh bahkan lari dari kita, yaitu firman Allah SWT: فبِمَا رَحْمَةٍ
مِنْ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ َوشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْر ِ(آل عمران159)
“Seandainya kau berlaku kasar dan berhati keras sesungguhnya manusia akan menjauhi kamu, maka berlemah lembutlah dan mohonlah ampunan bagi mereka dan sertakanlah mereka bermusyawarah dalam setiap urusan”

III. Memperhatikan kesehatan
Cara ketiga meraih kebahagiaan adalah; senantiasa memperhatikan kesehatan. Kesehatan disini mencakup empat hal, pertama, kesehatan raga (fisik), kedua, kesehatan jiwa, ketiga; kesehatan akal, dan keempat: kesehatan ruhani.
Pertama, bagaimana menjaga kesehatan raga atau fisik, yaitu dengan memberikan hak bagi tubuh kita untuk mendapatkan perawatan dan kebugaran. maka merawat tubuh hakekatnya adalah perintah agama kita. Dengan itu, olah raga bisa menjadi ibadah jika kita lakukan dengan niat mensyukuri nikmat penciptaan tubuh yang sempurna dan agar dengan oleh raga itu kita lebih energik dan produktif bekerja. Maka tidak berlebihan jika nilai ibadah sesungguhnya tidak hanya ditemukan di masjid tetapi juga dilapangan, semuanya tergantung niat.
Adapun yang kedua bagaimana menjaga kesehatan Jiwa, yaitu dengan cara melatih diri kita untuk meninggalkan sifat-sifat yang tercela, seperti, hasud, dengki, iri, mengumpat, mencela orang lain, menganggap rendah orang,bersedekah namun sering menyebut-nyebut amal sedekahnya dan lain-lain. Semakin banyak sifat-sifat tersebut bersemi dalam diri sesorang, betapapun bugar dan sehat badannya, sesungguhnya ia tengah terjangkit penyakit jiwa yang sangat akut.
Adapun yang ketiga bagaimana menjaga kesehatan akal,caranya; yaitu dengan menjauhkan segala hal yang dapat melumpuhkan fungsi otak dan akal kita. Sebab dengan akal suatu perintah dan larangan agama dapat diketahui. Oleh karena besarnya fungsi akal tersebut,maka menjaga akal adalah perintah agama pula. Dari sini dapat kita ketahui, kenapa minuman keras dilarang, sebab selain memang karena ia diharamkan secara tegas, di samping itu, minuman keras atau khamer dapat menghilangkan fungsi akal. Jika menjaga kesehatan akal adalah sebuah perintah agama, maka membuat fungsi akal menjadi rusak dan tidak berfungsi adalah sebuah pelanggaran agama dan dosa besar.
Adapun yang keempat adalah kesehatan ruhani. Bagaimana cara menjaganya, yaitu kita diperintahkan untuk selalu mengisi batin dan ruhani kita dengan tanda-tanda keagungan Allah swt, dengan selalu istiqomah menjalankan setiap perintah-perintah-Nya dan mengekang hawa nafsu semampu kita. Mendirikan sholat adalah contoh bagaimana kita tengah memberikan kesehatan terhadap ruhani kita, sebab sholat adalah sebuah simbol ketaatan kita kepada sang Khaliq. Selain itu juga puasa adalah satu cara bagaimana kita dapat mengekang hawa nafsu kita. Maka saudara-saudara sekalian, kalau kita selalu berusaha untuk istiqomah menjalankan setiap ajaran agama kita dan mengarahkan hawa nafsu kita secara baik, maka sesungguhnya kita telah berusaha menjadikan ruhani sehat.
Demikianlah pengertian 4 kesehatan di atas, yaitu saya ualangi. 1. Kesehatan raga, 2. kesehatan jiwa, 3. kesehatan akal, dan ke-4. kesehatan ruhani.
VI. Mampu memanage waktu dengan baik.
Adapun cara meraih kebahagiaan yang keempat, yaitu,mampu memanage waktu dengan baik. Saudara-saudara sekalian, setiap orang diberi waktu yang sama, mulai dari hitungan tahun, bulan, minggu, hari bahkan detik. Akan tetapi produktifitas yang dihasilkan orang berbeda-beda. Disatu sisi ada orang yang dalam waktu 4 tahun telah meraih posisi jabatan yang sangat gemilang, namun ada juga orang lain yang dalam waktu yang sama masih belum mendapatkan apa-apa. Rahasianya adalah sejauhmana orang tersebut memanfaatkan waktu dan memberdayaakannya secara optimal. Di samping itu pula dalam agama kita, selain keterampilan memanage waktu, ada yang di sebut dengan waktu yang “berkah” . Contohnya adalah, orang yang sudah tutup usia di waktu muda, tetapi jumlah karyanya melebihi jumlah usianya dan masih terus dikenang oleh banyak orang, kemudian orang yang menempuh perjalanan jauh, namun ia merasa sampai ke tempat tujuan lebih cepat dari yang ia perkirakan, termasuk mahasiswa yang tengah menulis karya ilmiah seperti thesis, ia mampu merampungkan tepat waktu bahkan lebih cepat dari yang semestinya. Inilah yang disebut dengan waktu yang “berkah”.

V.Memperoleh materi atau harta yang sesuai dengan kebutuhannya
Kemudian cara meraih kebahagiaan yang terakhir (kelima) adalah, dengan cara memperoleh materi atau harta yang sesuai kebutuhannya. Suatu hal yang perlu diingat adalah, tolak ukur kebahagiaan yang hakiki bukan terketak pada banyak dan sedikitnya materi yang kita peroleh, melainkan seberapa besar materi yang kita dapatkan tadi dapat menambah ketentraman batin kita. Kanjeng Nabi pernah bersabda ” Harta yang sedikit tetapi dapat menjadikan pemiliknya tentram dan bersyukur; lebih baik, ketimbang harta yang berlimpah akan tetapi hanya membuat pemiliknya gelisah dan terlena.” Atas dasar ini pula lah, banyak para penguasa yang sholeh ketika ia diberikan dua tawaran antara diberikan ilmu atau harta. mereka lebih memilih mendapatkan ilmu daripada harta. Di antaranya adalah khalifah Ali RA, ia pernah berkata; “Aku lebih memilih ilmu daripada harta, karena ilmu akan menjagaku, tetapi kalau harta aku yang bakal menjaganya.”
Namun hendaknya jangan kita fahami bahwa Islam tidak mementingkan harta. Atau seolah-olah harta tidak memiliki nilai sedikitpun dalam Islam. Sesungguhnya menjadi hartawan atau jutawan juga cita-cita Islam, akan tetapi bagaimana menjadi hartawan dan jutawan namun juga sekaligus menjadi dermawan serta memiliki visi kemanusiaan. kira-kira demikianlah prototipe muslim yang ideal. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW: “harta yang baik adalah yang berada di tangan orang baik.”
Demikian bagaimana kiat-kiat meraih kebahagiaan. Yaitu Ada 5 kiat ; 1. Tingkatkan kadar Iman dan amal sholeh.2. Tingkatkan kwalitas ahlak dan etika bergaul. 3. Perhatikan kesehatan, 4. Manage waktu dengan baik, dan 5. Peroleh materi sesuai dengan kebutuhan. Mudah-mudahan khutbah singkat ini ada manfaatnya. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mengembangkan Kemandirian Anak

Oleh: Rohmat, S. Pd., M. Pd.I
(Guru SMK Negeri 1 Majalengka)

Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini pada dasarnya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka terlahir dalam kondisi yang tidak berdaya, dan sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat mernpertahankan kehidupan dan rnengembangkan dirinya. Selanjutnya, seiring dengan bertambah usianya, anak diharapkan semakin dapat mengurus dirinya sendiri, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan diri ke arah kedewasaan. Dengan perkataan lain, anak diharapkan mampu mengembangkan kemandiriannya.
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, yang pada akhirnya setiap individu mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya setiap anak dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang sesuai dengan fungsi perkembangannya sendiri.
Perlu dimengerti oleh setiap orang dewasa bahwa kemandirian bukan merupakan sesuatu yang diturunkan atau dibawa sejak lahir, melainkan harus dibina, dikembangkan dan dipelajari dalam perjalanan kehidupan seseorang melalui pengalaman sehari-hari. Kemandirian juga bukan merupakan sesuatu yang dapat diberikan oleh orang lain bahkan oleh orang tua, melainkan harus ditumbuhkan dari dalam diri anak sendiri.
Maka dari itu, agar kemandirian setiap anak bisa tumbuh secara wajar dan positif diperlukan iklim yang kondusif, yaitu misalnya iklim keluarga di mana anak merasa aman, dicintai dan diterima sebagaimana adanya, mendapat peluang serta didorong untuk mempelajari berbagai hal tanpa khawatir mendapatkan celaan. Lingkungan sekolah di mana anak merasa dihargai manusia dewasa, dihormati karena memiliki kepribadian yang mantap, dan didorong untuk membagun diri sendiri tanpa ada ikatan dengan orang lain.
Kemandirian bukan merupakan sesuatu yang bersifat “abstrak” tetapi merupakan gejala kontinu. Tidak ada seorang anak pun yang sama sekali tidak rnemiliki kemandirian, karena bila demikian maka ia tidak akan dapat mengembangkan diri bahkan tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang sama sekali mandiri, sama sekali tidak membutuhkan orang lain di dalam upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Setiap anak memiliki kernandirian, hanya dalam derajat yang berbeda-beda.
Dengan asumsi bahwa setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Kemandirian Remaja
Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian.
Dari pengamatan penulis, banyak anak remaja yang mengalami kebingungan-kebingungan dan berkeluh kesah dengan permasalahan yang mengenai dirinya. Misalnya, mereka menyesali karena terus menerus dianggap sebagai seorang anak kecil yang segala kehidupannya masih perlu diatur oleh kedua orang tuanya. Mereka merasa sudah remaja, dengan argumennya sudah berusia 15 tahun. Salah satu contohnya adalah dalam memilih sekolah. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk ke sekolah tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, dia kehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari sekolah tersebut.
Dengan kisah berbeda, ada perbedaan antara keinginan orang tua dan anaknya yang ingin memilih program studi/jurusan. Ketika mendaftar ke SMK secara kolektif seorang anak memilih jurusan Otomotif mengikuti pilihan teman-temanya. Hal ini bertolak belakang dengan saran orangtuanya yang menginginkan anaknya masuk jurusan Teknologi Komputer. Cerita akhir dari kejadian sudah diduga, pasti ada perselisihan pendapat dengan permasalahan ini. Anak bersikukuh dengan pilihannya, orangtua dengan arogannya memaksa anak mengikutinya. Akibatnya anak akan terombang ambing perasaannya, antara pilihan pribadi dan pilihan orang tua.
Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian seorang. Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri.

Hubungan Kecerdasan Spiritual dengan Prestasi Belajar Siswa

Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd.I
(Guru SMK Negeri Majalengka)
Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.
Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Oemar Hamalik (1994) belajar adalah “proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan”. Seseorang dinyatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya.
Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar.
Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.
Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Menurut Goleman (2007), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang.
Tingkat kecerdasan rasional (rational intelegence) yang ditunjukkan oleh nilai IQ (intelegence Quotient) dianggap sebagai faktor utama yang menentukan prestasi belajar di sekolah. Namun banyak anak yang kecerdasannya di atas rata-rata, tetapi prestasi belajarnya tidak baik dan anak-anak yang kecerdasannya hanya rata-rata tetapi mampu berprestasi dengan baik di sekolah.
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal (2007) bahwa individu dalam kehidupannya tidak hanya membutuhkan logika/otak dan emosi saja, tetapi ada hal lain yang sangat berhubungan dengan kebermaknaan hidup yaitu spiritualitas yang selanjutnya mereka menyebutnya dengan kecerdasan spiritual. Dalam bukunya yang berjudul Spiritual Iintelligent (Kecerdasan Spiritual) (2007 : 4), mengemukakan bahwa:
“Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.

Apa yang dikemukakan oleh Danah Zohar tersebut di atas menggambarkan bahwa dewasa ini remaja tengah berada pada permasalahan spiritualitas yang erat kaitannya dengan kebermaknaan dan nilai-nilai kehidupan. Orang yang memahami tentang kebermaknaan hidup ini akan dijadikan sebuah motivasi bagi dirinya, serta dapat medorong dirinya untuk melakukan suatu kegiatan yang berguna, sehingga tidaklah berlebihan sekiranya kecerdasan spiritual ada yang menyebutnya dengan sebagai kecerdasan hati nurani yang mana dalam kajiannya mempertajam aspek moralitas.
Kecerdasan spiritual merupakan potensi internal individu yang digunakan untuk berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat seseorang secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalunya akibat masa masalah dan kesedihan. Kecerdasan spiritual menjadikan seseorang sadar bahwa ia memiliki masalah eksistesial dan membuat kita mampu mengatasinya, atau setidaknya berdamai dengan masalah tersebut (Agus Nggermanto : 2003).
Kecerdasan spiritual dipandang dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi perilaku negatif remaja yang pada saat ini kerap menjadi permasalahan bagi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun bagi remaja itu sendiri. Oleh sebab itu diperlukan peran serta keluarga dan sekolah untuk membantu remaja dalam mengembangkan kecerdasan spiritualnya.
Kemunculan istilah kecerdasan; baik kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Seperti halnya teori yang diungkapkan Daniel Goleman bahwa EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2007).
Begitupun teori Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2007). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif
Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).
Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 1996).
Begitupun yang terjadi pada remaja saat ini, mereka merasa senang jika mereka berada di lingkungan dimana mereka bebas untuk melakukan segala apa yang mereka inginkan. Tetapi justru disitulah mereka menemukan neraka di dalamnya, mereka terjebak di lingkungan yang sepi, sunyi dari ruh ilahiah. Tidak ada kedamaian di sana, yang ada hanyalah detik-detik penantian menuju kehancuran pada diri sendiri.
Berdasar pada temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall di atas, dan riset yang dilakukan oleh para peneliti lainnya ditemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2005).
Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep ’Kecerdasan Spiritual’, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna.

Remaja dan Permasalahannya

Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd.I
(Guru SMK Negeri Majalengka)
Masa remaja dapat dikatakan sebagai masa penentu arah untuk kehidupan individu selanjutnya. Pada masa remaja itulah berbagai tuntutan pemenuhan tugas-tugas perkembangan, termasuk berbagai tanggung jawab dan penyesuaian-penyesuaian, menuntut mereka untuk beradaptasi baik dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan di luar dirinya.
Terkait dengan masalah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan remaja ini, Syamsu Yusuf LN, (2005) mengemukakan sebagai berikut.
Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat sangat mempengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup siswa (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib sekolah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA, kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).

Dengan proses adaptasi remaja dengan lingkungannya tersebut, ada dua stimulus yang mempengaruhi perkembangan mereka khususnya dalam berprilaku, yaitu stimulus positif dan stimulus negatif. Stimulus positif yaitu rangsangan positif yang akan membantu remaja dalam penyesuaian dirinya apabila direspon dengan baik. Sedangkan stimulus negatif yaitu sebuah rangsangan yang menghambat remaja dalam menyesuaikan dirinya apabila direspon oleh remaja dengan cara mengikutinya.
Jika stimulus negatif itu dikuti oleh remaja, maka dapat menimbulkan keresahan, kecemasan dan ketakutan orang tua dan lingkungannya dalam melihat dan mengamati gejolak perilaku remaja yang mengganggu ketertiban.
Pada saat ini ternyata masih banyak stimulus negatif dengan berbagai bentuknya, yang lebih banyak direspon oleh remaja dengan cara mengikutinya. Perilaku remaja tersebut dianggap dapat menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan di masyarakat di antaranya, tawuran, pergaulan bebas, dan penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adaftif).
Remaja yang terjebak dalam penyalahgunaan NAPZA tersebut di atas diakibatkan oleh berbagai kondisi, antara lain disebabkan oleh perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosi secara wajar, mudah cemas dan cenderung depresi. Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkan masalah secara tepat berpengaruh terhadap bagaimana remaja itu dengan mudah mencari pemecahan masalah dengan melarikan diri dari kenyataan hidup yang mereka jalani. Hal itu pula yang mengakibatkan, para remaja dengan mudah menyalahkan lingkungan di mana mereka tinggal (keluarga) dan lebih melihat faktor-faktor di luar dirinya untuk menentukan sesuatu yang diinginkannya. Akhirnya, karena ketidakberdayaannya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, para remaja itu memandang bahwa obat-obatan terlarang sebagai alternatif jawaban dalam memecahkan masalahnya itu. Kondisi ini lebih diperburuk lagi dengan pengaruh teman sebaya (peer group). Pengaruh teman sebaya ini sangat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian remaja itu sendiri, sehingga mereka terjebak dalam tindakan penyalahgunaan NAPZA apabila remaja tidak memiliki prinsip diri pribadi yang kuat.
Selain hal-hal yang telah disebutkan, ada lagi yang menghawatirkan atas perilaku remaja saat ini yaitu sikap arogansi, saling memfitnah sesama teman, rendahnya kepedulian sosial, meningkatnya hubungan seks pra-nikah, bahkan merosotnya penghargaan dan rasa hormat terhadap orang tua dan guru sebagai sosok yang seharusnya disegani dan dihormati.
Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan manusia yang paling banyak mengalami perubahan. Secara tradisional masa ini biasa disebut dengan masa badai dan tekanan, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi. Setidaknya ada dua alasan bagi penyebab kesulitan ini. Pertama, Semasa kanak-kanak, sebagian besar masalah biasa diselesaikan oleh orang tua, sehingga para remaja belum punya pengalaman untuk mengatasi masalahnya sendiri. Kedua, Para remaja merasa dirinya mandiri, sehingga menolak bantuan orang tua, guru, dan orang yang lebih tua lainnya, mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
Menurut Syamsu Yusuf (2006) masa remaja merupakan periode perkembangan manusia yang paling banyak mengalami perubahan. Pada masa ini merupakan saat-saat perpindahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Berbagai macam perubahan meliputi semua segi kehidupannya seperti perubahan jasmani, pikiran, perasaan dan sosial. Pada umumnya, perubahan tersebut dimulai dari perubahan jasmani yang mencolok pada usia 13 atau 14 tahun. Selanjutnya perubahan tersebut akan diikuti atau disertai dengan adanya perubahan-perubahan lain yang terus berjalan sampai mencapai usia 20 tahun, sehingga bisa dikatakan bahwa masa remaja terjadi antara usia 13 sampai 20 tahun.
Para remaja dalam menghadapi permasalahannya bisa digolongkan kedalam dua kelompok, pertama, mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan diri sendiri beserta lingkungannya, mereka adalah remaja yang sukses dalam menjalani kehidupannya. Kedua, mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhannya.n diri dan lingkungannya.
Semua perilaku remaja seperti yang digambarkan diatas, menurut penulis tidak terlepas dari lingkungan dimana remaja itu berada. Karena sebagai makhluk sosial, remaja dalam menjalani kehidupannya senantiasa berhubungan dengan orang lain dimana remaja itu berada atau dengan kata lain dia melakukan relasi interpersonal. Dalam relasi interpersonal itu ditandai dengan berbagai aktivitas tertentu, baik aktivitas yang dihasilkan berdasarkan naluriah semata atau justru melalui proses pembelajaran tertentu. Berbagai aktivitas individu dalam relasi interpersonal ini biasa disebut perilaku sosial.
Krech et. al. (www. akhmadsudrajat.wordpress.com) mengungkapkan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari kecenderungan-kecenderungan ciri-ciri respon interpersonalnya, yang terdiri dari : (1) Kecenderungan Peranan (Role Disposition); yaitu kecenderungan yang mengacu kepada tugas, kewajiban dan posisi yang dimiliki seorang individu, (2) Kecenderungan Sosiometrik (Sociometric Disposition); yaitu kecenderungan yang bertautan dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain, dan (3) Ekspressi (Expression Disposition), yaitu kecenderungan yang bertautan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebiasaaan-kebiasaan khas (particular fashion).

Categories